Category Archives: Humanity

Cerita Lucu di Hari Idul Adha 4 Tahun Lalu

Gambar di ambil dari berita8.com

Cerita Lucu di Hari Idul Adha 4 Tahun Lalu

Sekali-kali nulis yang lain ya.., biar ga jenuh.. :D. Cerita ini sebenarnya sudah lumayan lama terpendam, hhmm.. sekitar 4 tahun yang lalu. Jadi waktu itu status saya masih jejaka *halah*, dan seperti kebanyakan jejaka, saya tinggal di tempat kost, numpang di tempat temen Juraganya Ugis 😀 di daerah seturan. Ceritanya berawal di suatu pagi 4 tahun yang lalu di hari Idul Adha (tahun 2009 berarti ya). Seperti biasanya di pagi hari Idul Adha, mentang-mentang libur kan, ya biasa lah anak kost.. sekitar jam 5 an pagi sehabis sholat subuh rasanya kepingin ngeloyor lagi di kasur, ndilalah kok yo di turuti, walhasil saya bangun kesiangan, liat jam ehh.. udah setengah 7 kurang dikit, ga pake lama langsung buru-buru lari ke kamar mandi buat tidur lagi mandi, sambil buru-buru setelah mandi langsung ganti baju rapi, pake sarung dan segera bergegas ke Masjid. Read more »

Piring Gelas dan Kayu

SEORANG lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram.

Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg!! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai.

Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.

“Esok ayah tak boleh makan bersama kita,” Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya
membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya.

Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya.

Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika
itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang arwah
isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: “Miah… buruk benar layanan anak kita pada abang.”

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun
menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu.

Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring
kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. “Oh! Ya…” bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama!

“Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu,” kata Rina apabila anaknya bertanya.

Waktu terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan,
tiada lagi piring atau gelas yang pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum.

Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat
melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Ada palu, gergaji dan pisau di sisinya. “Sedang membuat apa sayang?

Berbahaya main benda-benda seperti ini,” kata Arwan menegur manja anaknya.
Dia sedikit heran bagaimana anaknya dapat mengeluarkan peralatan itu, padahal ia menyimpannya di dalam gudang.

“Mau bikin piring, mangkuk dan gelas untuk Ayah dan Ibu. Bila Viva besar nanti,
supaya tak susah mencarinya, tak usah ke pasar beli piring seperti untuk Kakek,” kata Viva.

Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Perasaan Rina terusik.
Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiiris pisau. Mereka tersentak, selama ini mereka telah berbuat salah !

Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi. Viva beberapa kali memandang ibunya, kemudian ayah dan terakhir wajah kakeknya. Dia tidak bertanya, cuma tersenyum saja, bahagia dapat duduk bersebelahan lagi dengan kakeknya di meja makan. Lelaki tua itu juga tidak tahu kenapa anak menantunya tiba-tiba berubah.

“Esok Viva mau buang piring kayu dan gelas bambu itu” kata Viva pada ayahnya
setelah selesai makan. Arwan hanya mengangguk, tetapi dadanya masih terasa
sesak.

MORAL OF THE STORY – Hargailah kasih sayang kedua orang tua kita. Bapak Ibu kita hanya satu, setelah meninggal tidak akan ada pengganti. Jadi, berbaktilah kepada
mereka selagi hidup !
Hidup kita saat ini, adalah gambaran masa tua nanti.